I wish I had more time. I wish I had called her. I wish you would listen. Mirip dengan “Andai saja…”, tetapi kata kerjanya harus berubah.
Yang akan kamu pelajari
Wish menyatakan bahwa kamu ingin sesuatu berbeda dari kenyataannya, seperti “andai saja” atau “seandainya” dalam bahasa Indonesia. Tense setelah wish bergantung pada apa yang kamu inginkan: keadaan sekarang, sesuatu di masa lalu, atau perilaku orang lain yang terus berulang. “I wish I had more free time.” “I wish I had studied harder in school.”
Tantangannya: setelah “andai saja” kata kerja bahasa Indonesia tidak berubah, sedangkan setelah wish kata kerjanya selalu mundur satu langkah. Punya → had, bisa → could, (dulu) belajar → had studied, mau berhenti → would stop. Kalau kamu ingat pola ini, tense-mu hampir selalu benar.
Untuk keinginan tentang keadaan sekarang, pakai wish + past simple, sama seperti bagian if dalam second conditional. Bentuknya past, tetapi maknanya sekarang: “Andai saja saya punya lebih banyak waktu luang” → “I wish I had more free time.” “I wish I lived closer to my family.”
Dengan I/he/she/it, bentuk tradisionalnya were: “I wish I were taller.” (“Andai saja saya lebih tinggi.”) Perhatikan bahwa kalimat bahasa Indonesianya tidak punya kata kerja, tetapi bahasa Inggris butuh be. Dalam percakapan sehari-hari juga terdengar was, tetapi were adalah bentuk baku. Untuk kemampuan, pakai could: “I wish I could speak French.” (“Andai saja saya bisa berbahasa Prancis.”) Jangan pernah memakai present setelah wish: “I wish I have more time” salah.
Untuk menyesali sesuatu yang sudah terjadi (atau tidak terjadi), pakai wish + past perfect (had + past participle), satu langkah lebih jauh ke belakang daripada keinginan tentang sekarang. Dalam bahasa Indonesia kita cukup menambahkan “dulu”: “Seandainya dulu saya belajar lebih giat di sekolah” → “I wish I had studied harder in school.” “I wish I hadn't said that.”
Past simple saja (“I wish I studied…”) tidak cukup, karena itu berarti keinginan tentang sekarang. “I wish I would have studied…” kadang terdengar dalam bahasa Inggris Amerika yang santai, tetapi tidak dianggap baku. Cara lain untuk menyatakan penyesalan: “I regret not studying harder.” (“Saya menyesal tidak belajar lebih giat.”)
Kalau kamu terganggu oleh sesuatu yang terus dilakukan orang lain dan ingin hal itu berubah, pakai wish + would. Dalam bahasa Indonesia kita sering memakai “coba” atau “mau”: “Coba kamu mau berhenti menyela saya!” → “I wish you would stop interrupting me.” Bisa juga untuk benda dan cuaca: “I wish it would stop raining.” (“Coba hujannya berhenti.”)
Penting: wish + would dipakai untuk orang lain atau benda, biasanya bukan untuk dirimu sendiri. Tentang dirimu sendiri, katakan I wish I had / were / could…, bukan “I wish I would…”.
“Saya berharap kamu bisa datang besok” atau “Semoga kamu bisa datang besok” membicarakan sesuatu yang mungkin terjadi, jadi pakai hope, bukan wish.
Untuk keinginan yang tidak nyata tentang sekarang, setelah wish dipakai past simple, walaupun “punya” dalam bahasa Indonesia tidak berubah.
“Andai saja saya bisa…”: setelah wish, can menjadi could.
“Seandainya dulu saya belajar lebih giat”: penyesalan tentang masa lalu = wish + past perfect. Past simple berarti sekarang.
Untuk mengeluhkan sesuatu yang terus dilakukan orang lain (“Coba kamu mau berhenti…”), pakai would.
“Andai saja saya lebih tinggi” tidak punya kata kerja, tetapi bahasa Inggris butuh be: were (dalam ragam santai juga was).
“Berharap” dipakai untuk keduanya: “Saya berharap kamu bisa datang besok” (mungkin terjadi) dan “Saya berharap saya lebih tinggi” (tidak mungkin)
Bahasa Inggris memisahkannya. Untuk sesuatu yang memang bisa terjadi, pakai hope: “I hope you can come tomorrow.” “I hope it doesn't rain.” Wish hanya untuk yang tidak nyata atau sangat tidak mungkin. “I wish you can come tomorrow” salah. Petunjuk: kalau dalam bahasa Indonesia kamu bisa memakai “semoga” atau “mudah-mudahan”, pakai hope. Kalau bisa memakai “andai saja” atau “seandainya”, pakai wish.
“Andai saja saya punya mobil”, “Andai saja saya bisa berbahasa Prancis”: kata kerjanya tetap
Setelah wish, kata kerjanya mundur ke past: punya → had (“I wish I had a car”), bisa → could (“I wish I could speak French”), tahu → knew (“I wish I knew the answer”). Kalau tidak ada kata kerja dalam kalimat bahasa Indonesianya (“Andai saja saya lebih tinggi”), bahasa Inggris tetap butuh be: “I wish I were taller.”
“Seandainya dulu saya menelepon dia.”: masa lalu cukup ditandai dengan “dulu”
Bahasa Inggris menandai penyesalan tentang masa lalu dengan past perfect: “I wish I had called her.” Past simple (“I wish I called her”) berarti hal lain, yaitu keinginan tentang sekarang. Jadi: dulu → had + past participle.
“Coba dia mau mengangkat teleponnya!”: “coba” dan “mau” untuk mengeluhkan perilaku orang lain
Padanannya wish + would, karena would juga mengandung makna “mau, bersedia”: “I wish he would answer his phone.”, “I wish they would turn it down.” Bukan present (“I wish you stop…”) dan bukan wants to.
“Saya ingin sepeda baru untuk ulang tahun saya.”: “ingin” + benda
Untuk menginginkan sesuatu, bahasa Inggris memakai want atau would like: “I want a new bike for my birthday.” Wish + orang + benda hanya muncul dalam ucapan selamat: “I wish you luck”, “I wish you a happy birthday” (“Saya mengucapkan selamat ulang tahun”). Wish for + benda adalah keinginan yang hampir “ajaib”, misalnya saat meniup lilin: “I wished for a new bike.”
💡 Tanyakan: keinginan tentang sekarang (had/were/could), penyesalan tentang masa lalu (had + past participle), atau keluhan tentang orang lain (would)?
💡 “Semoga” / “mudah-mudahan” (bisa terjadi) → hope. “Andai saja” / “seandainya” (tidak nyata) → wish.
💡 Hanya ingin punya sesuatu? Pakai want atau would like, bukan wish.
"How's the new apartment?"
"Honestly, I wish I had picked a quieter street."
"That bad?"
"The neighbors play music every night. I wish they would turn it down."
Latihan 1 · Pilih kalimat yang benar
Choose the correct sentence (a wish about now).
Latihan 2 · Pilih kalimat yang benar
Choose the correct sentence (a regret about the past).
Latihan 3 · Pilih kalimat yang benar
Choose the correct sentence (a complaint about someone's behavior).
Latihan 4 · Pilih kalimat yang benar
Choose the correct sentence.
Latihan 5 · Tentukan waktunya
Which time does 'I wish I had more time' refer to?
Latihan 6 · Tentukan waktunya
Which time does 'I wish I had called her' refer to?
Latihan 7 · Pilih kalimat yang benar
Choose the correct sentence (a complaint).
Latihan 8 · Pilih kalimat yang benar
Choose the correct sentence (wishing for an ability).
Latihan 9 · Tulis ulang sebagai keinginan
Rewrite as a wish about now: 'I don't have a car.'
Latihan 10 · Tulis ulang sebagai penyesalan
Rewrite as a regret about the past: 'I didn't apply for the job.'
Latihan 11 · Kelompokkan: keinginan atau keluhan
0 / 4 dikelompokkan
Latihan 12 · Kesalahan umum: “berharap” atau “semoga” diterjemahkan dengan wish
Indonesian: “Semoga kamu bisa datang besok.” Which English sentence is correct?
Lima pertanyaan singkat untuk mengecek apa yang sudah kamu pelajari.
Pertanyaan 1 / 5
Skor: 0/0
Choose the correct sentence.
If only: seruan “Andai saja…!”
If only memakai tense yang sama dengan wish, tetapi terdengar lebih kuat dan emosional, biasanya sebagai seruan tersendiri, seperti “Andai saja…!”.
It's time (“Sudah waktunya…”)
It's time + subjek + past simple, walaupun yang dibicarakan adalah sekarang: mengapa begitu, dan kapan memakai alternatifnya, it's time for someone to.
Would rather (“lebih suka”)
Would rather: bentuk dasar tanpa to untuk pilihanmu sendiri dan subjek + past simple untuk apa yang kamu inginkan dari orang lain.
As if / as though (seolah-olah)
As if dan as though menggeser kata kerja satu langkah ke masa lalu untuk perbandingan yang tidak nyata, padanan “seolah-olah” atau “seakan-akan”.