It's time we left. It's time for you to leave. Bentuknya past, tetapi maknanya sekarang, seperti dalam “Sudah waktunya kita pergi.”
Yang akan kamu pelajari
Dengan “it's time” + subjek + past simple, kamu mengatakan bahwa sesuatu seharusnya sudah terjadi, tetapi belum terjadi: sebenarnya sudah agak terlambat. Walaupun kata kerjanya past, yang dibicarakan hanya sekarang atau masa depan yang dekat.
Dalam bahasa Indonesia kita berkata “Sudah waktunya kita pergi”, dan kata kerjanya tidak berubah. Kalau diterjemahkan kata per kata, muncul “It's time we leave”. Dalam bahasa Inggris, bentuk past di sini berarti “belum menjadi kenyataan”, seperti setelah wish atau dalam “If I knew…”. Jadi: “It's time we left.” “Sudah” juga tidak perlu diterjemahkan menjadi already. That boleh ditambahkan (“It's time that we left”), tetapi biasanya dihilangkan. Ada juga bentuk continuous: “It's time we were leaving.”
Alternatif yang lebih netral adalah for + orang + to-infinitive. Kedengarannya lebih seperti pernyataan biasa dan kurang seperti sindiran atau teguran. Tanpa orang, bentuknya lebih sederhana lagi: “It's time to go.” (“Sudah waktunya pergi.”)
Hati-hati dengan dua hal. Pertama, setelah for + orang atau benda selalu to + bentuk dasar, bukan kata kerja biasa: “Sudah waktunya rapat dimulai” → “It's time for the meeting to start.”, bukan “It's time for the meeting starts”; “It's time for you to leave.”, bukan “It's time for you leave”. Kedua, setelah for dipakai kata ganti bentuk objek: “for us”, “for him”, “for them”, bukan “for we” atau “for he”, walaupun “kita” dan “dia” dalam bahasa Indonesia tidak berubah.
Dengan high atau about, kalimatnya menjadi lebih tegas: jelas terdengar bahwa sesuatu sudah terlambat, sering dengan sedikit rasa tidak sabar atau kritik.
Dalam bahasa Indonesia nada ini sering muncul lewat kata seperti “seharusnya dari dulu”: “Seharusnya dari dulu kamu menelepon ibumu.” → “It's about time you called your mother.” “About time!” saja kira-kira sama dengan “Akhirnya!”. “It's high time you apologized.” ≈ “Sudah saatnya kamu minta maaf, dan seharusnya dari dulu.” Tata bahasanya tetap sama: subjek + past simple, tanpa should, walaupun dalam bahasa Indonesia ada “seharusnya”.
“Sudah waktunya kita pergi”: kata kerja bahasa Indonesia tidak berubah, tetapi setelah it's time + subjek dalam bahasa Inggris dipakai past simple, walaupun maknanya sekarang.
Setelah for dipakai bentuk objek: us, you, him, her, them. “Kita” tidak berubah dalam bahasa Indonesia, tetapi we berubah menjadi us.
“Sudah waktunya rapat dimulai”: setelah for + orang atau benda dipakai to + bentuk dasar.
Tanpa should: “seharusnya” sudah tersirat dalam past simple setelah it's high time.
Terjemahan kata per kata dari “Sudah waktunya kita pulang”. Yang benar past simple, dan sebaiknya tanpa that.
“Sudah” dalam “sudah waktunya” tidak diterjemahkan menjadi already; it's time sudah mengandung maknanya.
“Sudah waktunya kita pulang.”, “Sudah saatnya kamu bersikap dewasa.”: kata kerja setelah “sudah waktunya” tidak berubah
Terjemahan kata per kata menghasilkan “It's time we go home” atau “It's time you grow up”, yang tidak benar dalam bahasa Inggris baku. Kalau setelah it's time ada subjek, pakai past simple: “It's time we went home.” “It's time you grew up.” Past di sini tidak berarti masa lalu, melainkan “seharusnya sudah begitu, tetapi belum”. That biasanya dihilangkan.
“Sudah” dalam “sudah waktunya” terasa penting, jadi sering diterjemahkan menjadi already
Makna “sudah” sudah terkandung dalam it's time itu sendiri, terutama dalam it's high time dan it's about time. “It's already time we leave” salah dan janggal; cukup “It's time we left.”
Dalam bahasa Indonesia kita sering menambahkan “seharusnya”: “Sudah waktunya kamu seharusnya minta maaf”
Dalam bahasa Inggris, setelah it's time tidak ada should atau would. Makna “seharusnya” sudah dibawa oleh past simple: “It's high time you apologized.”, bukan “It's high time you should apologize.”
“Sudah waktunya pulang.”, “Sudah waktunya anak-anak tidur.”: kata kerja langsung mengikuti “waktunya”
Bahasa Inggris memakai to-infinitive: “It's time to go home.”, “It's time for the kids to go to bed.” Tanpa to (“It's time for the kids go to bed”) atau dengan kata kerja biasa (“It's time for the meeting starts”) kalimatnya salah.
💡 “Sudah waktunya kita pulang” → It's time we went home: setelah it's time + subjek dipakai past simple, bukan present.
💡 Tanpa should, tanpa would, tanpa already: past simple saja sudah berarti “seharusnya sudah”.
💡 High time dan about time lebih tegas (“seharusnya dari dulu”). Setelah for + orang: to + bentuk dasar, dan us/him/them, bukan we/he/they.
"Are you still job hunting?"
"Yeah, but honestly, it's time I updated my resume first."
"It's about time — you've been saying that for months!"
"I know, I know. This weekend, I promise."
Latihan 1 · Pilih kalimat yang benar
Choose the correct sentence.
Latihan 2 · Pilih kalimat yang benar
Choose the correct sentence.
Latihan 3 · Pilih kalimat yang benar
Choose the correct alternative structure with 'for.'
Latihan 4 · Pilih kalimat yang lebih tegas
Choose the more emphatic version.
Latihan 5 · Tentukan waktu yang dimaksud
Which time does 'It's time we left' actually refer to?
Latihan 6 · Pilih kalimat yang benar
Choose the correct sentence.
Latihan 7 · Pilih kalimat yang benar
Choose the correct sentence.
Latihan 8 · Pilih kalimat yang benar
Choose the correct sentence.
Latihan 9 · Tulis ulang dengan “It's time”
Rewrite using 'It's time': 'We should leave now.'
Latihan 10 · Tulis ulang dengan “It's time for … to”
Rewrite using 'It's time for + someone + to': 'You should go home.'
Latihan 11 · Kelompokkan menurut strukturnya
0 / 4 dikelompokkan
Latihan 12 · Kesalahan umum: “sudah waktunya” diterjemahkan kata per kata
Indonesian: “Sudah waktunya kita pulang.” Which English sentence is correct?
Lima pertanyaan beragam untuk mengecek apa yang sudah kamu pelajari.
Pertanyaan 1 / 5
Skor: 0/0
Choose the correct sentence.
Would rather (“lebih suka”)
Would rather: bentuk dasar tanpa to untuk pilihanmu sendiri dan subjek + past simple untuk apa yang kamu inginkan dari orang lain.
If only: seruan “Andai saja…!”
If only memakai tense yang sama dengan wish, tetapi terdengar lebih kuat dan emosional, biasanya sebagai seruan tersendiri, seperti “Andai saja…!”.
As if / as though (seolah-olah)
As if dan as though menggeser kata kerja satu langkah ke masa lalu untuk perbandingan yang tidak nyata, padanan “seolah-olah” atau “seakan-akan”.
Wish: keinginan dan penyesalan
Wish untuk keinginan tentang sekarang, penyesalan tentang masa lalu, dan keluhan tentang orang lain, serta mengapa “semoga kamu datang” bukan wish.