She talks as if she knew everything: perbandingan yang tidak benar. Bahasa Indonesia cukup memakai “seolah-olah”, bahasa Inggris juga mengubah kata kerjanya.
Yang akan kamu pelajari
As if dan as though memperkenalkan perbandingan, seperti “seolah-olah” atau “seakan-akan”. Sering kali perbandingan itu hanya menggambarkan kesan, bukan kenyataan. Kalau perbandingannya tidak nyata, kata kerjanya mundur satu langkah ke masa lalu. Polanya sama dengan setelah wish dan dalam second conditional.
Inilah perbedaan utamanya dengan bahasa Indonesia. Dalam “Dia bicara seolah-olah dia tahu segalanya”, kata “tahu” tidak berubah; hanya “seolah-olah” yang menunjukkan bahwa ini tidak benar. Bahasa Inggris memberi tanda kedua pada kata kerja: “She talks as if she knew everything.” (knew, bukan knows). Untuk sesuatu yang lebih dulu, kata kerjanya mundur lagi: “He looked as if he had seen a ghost.”
As if dan as though artinya sama; as though terdengar sedikit lebih formal. Aturan tense-nya sama untuk keduanya.
Kalau kamu membandingkan dengan keadaan khayalan yang berlaku sekarang, tetapi tidak benar, pakai past simple setelah as if / as though: “She talks as if she knew everything.” (“Dia bicara seolah-olah dia tahu segalanya.”) Bentuknya past, tetapi maknanya tentang sekarang.
Untuk be, bahasa Inggris yang cermat memakai were untuk semua subjek: “He treats me as if I were a stranger.” (“Dia memperlakukan saya seolah-olah saya orang asing.”) Dalam percakapan sehari-hari kamu juga akan mendengar “as if I was”, dan itu wajar dalam ragam santai. Yang tidak cocok adalah present “as if I am a stranger” kalau jelas kamu bukan orang asing.
Jangan lupa subjeknya. Dalam bahasa Indonesia kita bisa berkata “Dia bicara seolah-olah tahu segalanya”, tanpa “dia” kedua. Dalam bahasa Inggris subjek wajib: “as if she knew everything”, bukan “as if knew everything”.
Kalau peristiwa khayalan itu terjadi sebelum saat yang sedang dibicarakan, mundur satu langkah lagi ke past perfect: “He looked as if he had seen a ghost.” (“Dia tampak seolah-olah baru melihat hantu.”) “She spoke as though she had rehearsed it.” (“Dia berbicara seakan-akan sudah berlatih sebelumnya.”)
Kalau dalam bahasa Indonesia kamu bisa menambahkan “sudah” atau “sebelumnya” setelah “seolah-olah”, bahasa Inggris memakai had + past participle, bukan past simple (“as if he saw”) dan bukan present perfect (“as if he has seen”). Dalam bahasa Inggris lisan yang santai kadang terdengar “as if nothing happened”, tetapi pelajaran ini melatih bentuk standarnya: “She acted as if nothing had happened.”
Satu kata negatif saja: “seolah-olah tidak terjadi apa-apa” memakai “tidak” dan “apa-apa”, tetapi dalam bahasa Inggris nothing sudah negatif. Jadi “as if nothing had happened”, bukan “as if nothing hadn't happened”.
Tidak semua perbandingan tidak nyata. Kalau sesuatu memang mungkin benar, karena kelihatannya memang begitu, bahasa Inggris tetap memakai present atau present perfect: “It looks as though it's going to rain.” (“Kelihatannya akan hujan.”) Hujan memang mungkin turun, jadi kata kerjanya tidak mundur. Subjek it juga wajib: bukan “Looks as though is going to rain”.
Tense-nya menjadi sinyal: “You look as if you've seen a ghost.” membiarkan kemungkinan bahwa kamu memang melihat hantu. “You look as if you'd seen a ghost.” berarti: tentu saja kamu tidak melihat hantu, hanya kelihatannya begitu. Tanyakan pada dirimu: mungkinkah ini benar, atau hanya kesan? Dalam bahasa Inggris santai, present juga terdengar untuk perbandingan yang jelas tidak nyata (“He acts as if he owns the place.”), tetapi bentuk past membuat ketidaknyataannya jelas, dan bentuk itulah yang dilatih dalam soal-soal.
Dia tidak tahu segalanya, jadi perbandingannya tidak nyata: knows → knew, walaupun “tahu” dalam bahasa Indonesia tidak berubah.
“Seolah-olah sudah melihat hantu”: peristiwa khayalannya terjadi lebih dulu, jadi past perfect (had seen).
“Tidak terjadi apa-apa” punya “tidak” dan “apa-apa”, tetapi nothing sudah negatif: had happened, bukan hadn't happened.
Kamu bukan orang asing, jadi perbandingannya tidak nyata: am → were (dalam ragam santai juga was).
“Kelihatannya akan hujan” tidak punya subjek, tetapi bahasa Inggris butuh it. Karena ini kemungkinan nyata, kata kerjanya tetap present.
“Dia bicara seolah-olah tahu segalanya” wajar dalam bahasa Indonesia, tetapi setelah as if subjeknya harus disebut lagi: he.
Setelah “seolah-olah” atau “seakan-akan” kata kerjanya tidak berubah: “seolah-olah dia tahu segalanya”, “seolah-olah saya orang asing”
Dalam bahasa Indonesia, hanya kata penghubungnya yang menandai bahwa perbandingan itu tidak nyata. Bahasa Inggris juga menandainya pada kata kerja: present menjadi past simple (knows → knew, am/is → were). “She talks as if she knew everything.” “He treats me as if I were a stranger.” Kalau kamu menerjemahkan kata per kata (“as if she knows”), kalimatnya terdengar seolah-olah kamu menganggap itu mungkin benar.
“Dia tampak seolah-olah sudah melihat hantu.”: “sudah” menunjukkan bahwa peristiwanya terjadi lebih dulu
Untuk peristiwa khayalan yang terjadi sebelum saat yang dibicarakan, bahasa Inggris memakai past perfect: “He looked as if he had seen a ghost.”, “They looked at me as if I had said something crazy.” “Sudah” di sini tidak diterjemahkan menjadi have seen atau already saw; maknanya dibawa oleh had + past participle.
Bahasa Indonesia sering menghilangkan subjek: “Dia bicara seolah-olah tahu segalanya”, “Kelihatannya akan hujan”
Dalam bahasa Inggris setiap anak kalimat setelah as if / as though butuh subjek: “as if she knew everything”, “It looks as though it's going to rain”. Untuk cuaca dan kesan umum, subjeknya it.
Bahasa Indonesia memakai “seolah-olah” untuk kesan yang tidak benar, dan “kelihatannya” atau “sepertinya” untuk dugaan yang mungkin benar
Dalam bahasa Inggris, as if / as though bisa dipakai untuk keduanya, dan tense-nya yang membedakan. Kalau mungkin benar, tetap present atau present perfect: “It looks as though it's going to rain.” Kalau jelas tidak benar, kata kerjanya mundur: “as if she knew”. Jadi jangan memundurkan kata kerja kalau sesuatu memang kelihatannya begitu.
💡 “Seolah-olah” tidak mengubah kata kerja, tetapi as if mengubahnya: knows → knew, am → were.
💡 Sesuatu yang terjadi lebih dulu (“seolah-olah sudah…”) → had + past participle: as if he had seen a ghost.
💡 Tanyakan: mungkinkah ini benar (present tetap) atau hanya kesan (mundur satu langkah)? Dan jangan lupa subjeknya.
"How was the meeting with the new manager?"
"Strange. He talked as if he already knew everyone, but it was his first day."
"Maybe he did his research beforehand."
"Maybe. Still, he acted as if he had worked here for years."
Latihan 1 · Pilih kalimat yang benar
Choose the correct sentence (unreal present comparison).
Latihan 2 · Pilih kalimat yang benar
Choose the correct sentence (unreal past comparison).
Latihan 3 · Pilih kalimat yang benar
Choose the correct sentence.
Latihan 4 · Pilih perbandingan yang tidak nyata
Which comparison is unreal — the speaker doesn't actually know the answer?
Latihan 5 · Pilih kalimat yang benar
Choose the correct sentence (unreal past comparison).
Latihan 6 · Pilih kalimat yang benar
Choose the correct sentence.
Latihan 7 · Pilih kalimat yang benar
Choose the correct sentence (unreal past).
Latihan 8 · Pilih perbandingan yang tidak nyata
Which sentence presents the comparison as clearly unreal — you know they haven't seen a ghost?
Latihan 9 · Gabungkan kalimatnya dengan “as if”
Combine with 'as if' (unreal present): 'He walks. He is in charge, but he isn't.'
Latihan 10 · Gabungkan kalimatnya dengan “as though”
Combine with 'as though' (unreal past): 'She looked tired. She had run a marathon, but she hadn't.'
Latihan 11 · Kelompokkan: tidak nyata sekarang atau lebih dulu
0 / 4 dikelompokkan
Latihan 12 · Kesalahan umum: “seolah-olah tidak terjadi apa-apa” diterjemahkan kata per kata
Indonesian: “Dia bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.” Which English sentence is correct?
Lima pertanyaan singkat untuk mengecek apa yang sudah kamu pelajari.
Pertanyaan 1 / 5
Skor: 0/0
Choose the correct sentence.
Would rather (“lebih suka”)
Would rather: bentuk dasar tanpa to untuk pilihanmu sendiri dan subjek + past simple untuk apa yang kamu inginkan dari orang lain.
It's time (“Sudah waktunya…”)
It's time + subjek + past simple, walaupun yang dibicarakan adalah sekarang: mengapa begitu, dan kapan memakai alternatifnya, it's time for someone to.
If only: seruan “Andai saja…!”
If only memakai tense yang sama dengan wish, tetapi terdengar lebih kuat dan emosional, biasanya sebagai seruan tersendiri, seperti “Andai saja…!”.
Wish: keinginan dan penyesalan
Wish untuk keinginan tentang sekarang, penyesalan tentang masa lalu, dan keluhan tentang orang lain, serta mengapa “semoga kamu datang” bukan wish.