Kesopanan dan cara memperhalus

B1 · MenengahRagam dan gaya bahasa

Could you help me? I was wondering if you could. I'm afraid… Mengambil jarak agar terdengar lebih halus dan ramah.

Yang akan kamu pelajari

  • Mengapa could dan would terdengar lebih sopan daripada can dan will, walaupun keduanya juga bentuk lampau
  • Bagaimana pertanyaan tidak langsung (I was wondering if…, Do you think you could…?) memperhalus permintaan, karena memberi lawan bicara ruang untuk menolak, mirip “Kira-kira bisa…?”
  • Mengapa setelah “I was wondering if…” urutan katanya tetap urutan kalimat biasa (if you could)
  • Bagaimana “I'm afraid”, “unfortunately”, dan “I don't want to be rude, but…” menjadi bantalan untuk kabar buruk, ketidaksetujuan, atau kritik, seperti “mohon maaf” dan “sayangnya”
  • Mengapa kalimat perintah dengan please tetap terdengar seperti perintah, dan mengapa “mau” yang netral dalam bahasa Indonesia menjadi “I want” yang terdengar menuntut
  • Kalimat perintah dengan please dan question tag (Close the door, would you?) dibahas dalam pelajaran “Permintaan yang sopan”; pendapat yang hati-hati (I think, sort of) dibahas dalam pelajaran “Hedges (ungkapan untuk memperhalus)”

Mengambil jarak agar terdengar lebih halus

Sebagian besar kesopanan dalam bahasa Inggris bekerja dengan menciptakan jarak antara kamu dan apa yang kamu inginkan atau katakan. Bentuk kata kerja atau pertanyaan yang lebih “jauh” dan tidak langsung terdengar lebih halus dan tidak menuntut dibandingkan kalimat yang pendek dan lugas, walaupun permintaan atau faktanya sama.

Dalam bahasa Indonesia kita memperhalus dengan kata: “tolong”, “mohon”, “boleh”, “bisa”, “mungkin”, “maaf”, dan sapaan “Bapak” atau “Ibu”. Kalimat seperti “Tolong kirim filenya, Pak” sudah cukup sopan. Dalam bahasa Inggris tidak ada “Bapak” atau “Ibu”, dan please saja tidak cukup: kesopanan harus terlihat dalam bentuk kalimatnya.

"Can you help me? → Could you help me? (lebih sopan)"
"Help me. → I was wondering if you could help me. (jauh lebih sopan)"

Pertanyaan tidak langsung untuk kesopanan lebih

Kalau kamu mengubah permintaan menjadi pertanyaan tidak langsung (I was wondering if…, Do you think you could…?, Would it be possible to…?), nadanya menjadi lebih halus lagi. Pada bagian setelah if, urutan katanya tetap urutan kalimat pernyataan (if you could); dalam bahasa Inggris standar urutannya tidak dibalik seperti dalam pertanyaan langsung.

Bahasa Indonesia punya cara yang mirip: “Kira-kira Bapak bisa membantu?” → Do you think you could help me?, “Apakah mungkin dijadwalkan ulang?” → Would it be possible to reschedule? Satu jebakan: setelah Would you mind…? bahasa Inggris memakai bentuk -ing: Would you mind opening the window?, bukan “to open”, walaupun kita cenderung menambahkan “untuk”.

"I was wondering if you could call me back."
"Do you think you could send the file today?"
"Would it be possible to reschedule?"

Memperhalus kabar buruk dan ketidaksetujuan

Ungkapan seperti I'm afraid, unfortunately, dan I don't want to be rude, but… menjadi bantalan sebelum kabar yang tidak menyenangkan, ketidaksetujuan, atau kritik, sehingga lawan bicara punya waktu untuk bersiap. I'm afraid di sini tidak ada hubungannya dengan rasa takut: artinya “mohon maaf, …” atau “sayangnya”. Unfortunately juga berarti “sayangnya” atau “sayang sekali”.

Kabar baiknya, budaya berbahasa kita juga suka memperhalus, jadi nalurinya sudah ada. Yang sering hilang justru dalam tulisan: dalam chat kerja kita mungkin menulis “Salah, Pak” atau “Tidak bisa”, lalu menerjemahkannya menjadi “That's wrong.” atau “Cannot.” Dalam bahasa Inggris itu terdengar keras. Lebih baik buka dengan bantalan dan rumuskan dengan hati-hati (I think…, might be…, not quite…).

"I'm afraid we're fully booked that evening."
"I don't want to be rude, but I think there's an error in the invoice."

Perhatikan

✗I want a table for two.
✓I'd like a table for two, please.

“Saya mau meja untuk dua orang” terdengar biasa dalam bahasa Indonesia, tetapi I want terdengar menuntut. Pakai I'd like (= I would like).

✗Please give me a coffee.
✓Could I have a coffee, please?

Terjemahan dari “Tolong kasih saya kopi satu” tetap berupa perintah. Di kafe orang berkata “Could I have…, please?”; “Can I get…?” juga sangat umum, terutama dalam bahasa Inggris Amerika.

✗Would you mind to open the window?
✓Would you mind opening the window?

Setelah mind bahasa Inggris memakai bentuk -ing, bukan to + kata kerja.

✗I was wondering could you help me.
✓I was wondering if you could help me.

Dalam bahasa Inggris standar, pertanyaan tidak langsung perlu “if” dan urutan kata kalimat pernyataan: if you could, bukan could you.

✗Send me the report now. (kepada klien baru)
✓Would it be possible to send me the report at your earliest convenience?

Perintah langsung terdengar tidak sopan dalam hubungan profesional atau dengan orang yang tidak kamu kenal. Pertanyaan tidak langsung yang diperhalus jauh lebih cocok, dan tidak ada “Bapak” atau “Ibu” yang bisa menyelamatkan nadanya.

✗That's wrong.
✓I don't want to be rude, but I think that might be incorrect.

Kritik tanpa pembuka terdengar keras dalam bahasa Inggris. Bantalan tidak mengubah isi pesanmu, hanya nadanya.

Perbandingan dengan bahasamu

Dalam bahasa Indonesia, “tolong” atau “mohon” + kalimat perintah sudah sopan: “Tolong kirim laporannya”, “Mohon ditandatangani”

Dalam bahasa Inggris, kalimat perintah tetap perintah walaupun ada please. “Please send me the report.” bisa dipakai dengan teman atau bawahan, tetapi kepada klien, atasan, atau orang yang tidak dikenal terdengar seperti instruksi. Yang wajar adalah pertanyaan: “Could you send me the report?”, “Would you mind signing this?”. Jangan juga menerjemahkan “tolong” secara harfiah menjadi help: “Help me close the door” terdengar seperti kamu tidak sanggup menutupnya sendiri.

“Saya mau pesan nasi goreng”, “Saya mau tanya”: kata “mau” terdengar netral dan biasa

Padanan harfiahnya, I want, terdengar menuntut ketika kamu memesan atau meminta sesuatu. Pakai I'd like (= I would like) atau pertanyaan: “I'd like the fried rice, please.”, “Could I have a coffee, please?”, “Could I ask you something?”. Hal yang sama berlaku untuk “Saya minta…”: “Could I have the bill, please?” (Britania) / “Could we get the check, please?” (Amerika), bukan “I ask the bill”.

Kita juga punya kata pelunak: “Kira-kira bisa…?”, “Mungkin…”, “Mohon maaf, …”, “Sayangnya…”

Ini bantuan besar, karena bahasa Inggris memakai bantalan yang serupa: “Kira-kira bisa dikirim hari ini?” → “Do you think you could send it today?”; “Mohon maaf, penerbangannya dibatalkan” → “I'm afraid the flight is cancelled.” (Britania, “cancelled”) atau “I'm afraid the flight is canceled.” (Amerika, “canceled”). Bedanya ada pada bentuk: bahasa Inggris memasukkan kesopanan ke dalam struktur kalimat (could, would, if…), bukan hanya menambahkan satu kata di depan.

💡 Dengan orang yang tidak dikenal atau di kantor: Could you…? lebih aman daripada Can you…?. Di sini could tidak bermakna lampau.

💡 Please tidak mengubah perintah menjadi permintaan: buat pertanyaan.

💡 Setelah I was wondering if… pakai urutan kata biasa: if you could.

💡 Would you mind + -ing: Would you mind opening…?, bukan to open.

💡 Untuk meminta sesuatu: I'd like… atau Could I have…?, bukan I want… atau Give me…

Situasi nyata: minta tolong kepada rekan kerja

"Sorry to bother you — I was wondering if you could take a quick look at this before the meeting?"

"Sure, no problem. Send it over."

"Thanks so much. And I'm afraid it's a bit urgent — would it be possible by 2?"

Latihan

Latihan 1 · Pilih kalimat yang lebih sopan

Which sounds more polite/less direct?

Latihan 2 · Pilih kalimat yang lebih sopan

Which sounds more polite?

Latihan 3 · Pilih deskripsi yang benar

'I was wondering if you could help me.' This structure is...

Latihan 4 · Lengkapi pertanyaan tidak langsung yang sopan

Complete the polite indirect question: 'Do you think ___ possible to reschedule?'

Latihan 5 · Pilih cara paling sopan menyampaikan kabar buruk

Which softens bad news most politely?

Latihan 6 · Tentukan fungsinya

'I don't want to be rude, but I think there's a mistake here.' This phrase functions to...

Latihan 7 · Pilih urutan yang benar

Which is the correct word order in an indirect polite question?

Latihan 8 · Pilih penjelasan yang benar

'Would' and 'could' sound more polite than 'will' and 'can' mainly because...

Latihan 9 · Ubah permintaan menjadi lebih sopan

Make this more polite using an indirect question: 'Can you send me the file?' (start with 'I was wondering if')

Latihan 10 · Perhalus kabar buruknya

Soften this bad news politely: 'The flight is cancelled.' (start with 'I'm afraid')

Latihan 11 · Kelompokkan: halus atau lugas

Could you help me?
Help me.
Would you mind closing the door?
Close the door.
I was wondering if you could call back later.
Call back later.
I'm afraid we can't refund this.
We can't refund this.

0 / 8 dikelompokkan

Latihan 12 · Kesalahan umum: “Saya mau…” menjadi “I want…”

Indonesian: “Saya mau pesan satu kopi.” (ordering in a café) Which English sentence is correct and polite?

Kuis singkat

Lima pertanyaan singkat untuk mengecek apa yang sudah kamu pelajari.

Pertanyaan 1 / 5

Skor: 0/0

'Would it be possible to reschedule the call?' This is an example of...

Yang sudah kamu pelajari

  • Could dan would terdengar lebih sopan daripada can dan will karena jaraknya; dalam permintaan, keduanya tidak bermakna lampau.
  • Pertanyaan tidak langsung (I was wondering if…, Do you think you could…?) memperhalus permintaan lebih jauh lagi.
  • Pada bagian setelah if dalam pertanyaan tidak langsung, urutan katanya biasa: if you could.
  • I'm afraid (“mohon maaf, …”, “sayangnya”) dan I don't want to be rude, but… menjadi bantalan untuk kabar buruk dan ketidaksetujuan.
  • “Tolong” + perintah dan “Saya mau…” sopan dalam bahasa Indonesia, tetapi bahasa Inggris memerlukan pertanyaan, would like, dan bantalan.
  • Pelajaran ini melengkapi pelajaran “Permintaan yang sopan” (please dan question tag) tanpa mengulanginya.
Lihat semua pelajaran di kategori ini