If I had more time, I would travel more. Artinya “Seandainya saya punya lebih banyak waktu, saya akan lebih sering bepergian.”
Yang akan kamu pelajari
Second conditional membayangkan situasi yang sekarang tidak nyata (mustahil, hanya andai-andai, atau kecil kemungkinannya) lalu mengatakan apa yang akan terjadi. Dalam anak kalimat dengan if dipakai past simple, dan di induk kalimat would + bentuk dasar: “If I had more time, I would travel more.” “If I won the lottery, I'd buy a house.”
Di sinilah bahasa Indonesia dan bahasa Inggris berbeda. Dalam bahasa Indonesia, “Kalau saya punya lebih banyak waktu, saya akan lebih sering bepergian” bisa berarti rencana nyata atau sekadar khayalan. Kita menandai khayalan dengan kata seperti “seandainya”, “andaikan”, atau “kalau saja”. Bahasa Inggris menandainya dengan bentuk kata kerja: had di sini bukan masa lalu, melainkan tanda bahwa situasinya tidak nyata. Dan would di induk kalimat berarti “akan” dalam dunia khayalan.
Bandingkan dengan first conditional: “If I win the lottery, I'll buy a house.” berarti kamu menganggapnya mungkin terjadi. “If I won the lottery, I'd buy a house.” berarti “seandainya saya menang lotre”: kamu sedang berandai-andai. Kalau kamu memakai have dan will, penutur asli akan mengira kamu benar-benar berencana.
Ini jebakan utamanya. Karena kata kerja bahasa Indonesia tidak berubah, banyak pelajar merasa makna “seandainya” harus ditunjukkan dengan sebuah kata, dan would adalah kata “pengandaian” yang mereka kenal. Akibatnya would dipasang di kedua bagian kalimat. Dalam bahasa Inggris itu salah: anak kalimat dengan if hanya memakai past simple, dan would hanya ada di induk kalimat.
Jadi bukan “If I would have more time…”, melainkan “If I had more time…”. Begitu juga: “If she knew the answer, she would tell you.” (“Seandainya dia tahu jawabannya, dia pasti memberitahumu.”) “If I had a car, I would drive to work.” Trik: bagian if → past simple (had, knew, lived); bagian “akan…” → would.
Di induk kalimat jangan lupa subjeknya. Dalam bahasa Indonesia subjek sering dihilangkan kalau sudah jelas (“Kalau punya mobil, ya naik mobil ke kantor”), tetapi dalam bahasa Inggris harus ada: I would drive. Setelah would, kata kerjanya selalu bentuk dasar: would travel, bukan would traveled atau would to travel. Selain would, kamu juga bisa memakai could (“bisa”) atau might (“mungkin”). Jangan menulis would can: “bisa” dalam pengandaian adalah could. Anak kalimat if tetap past simple: If I had more free time, I could learn guitar.
Supaya lengkap: dalam permintaan yang sopan seperti “If you would follow me, please.” (“Mari, silakan ikuti saya.”), would memang muncul setelah if, karena di sini artinya “bersedia”. Ini kasus khusus. Untuk membayangkan situasi, anak kalimat dengan if tidak memakai would.
Dalam second conditional, setelah if secara tradisional dipakai were untuk semua subjek, juga untuk I/he/she/it. Kalimat “Kalau saya jadi kamu, saya akan minta maaf” dalam bahasa Inggris adalah “If I were you, I would apologize.” Jangan diterjemahkan kata per kata menjadi “If I am you” atau “If I become you”. Untuk memberi saran, “Kalau saya di posisimu, saya akan menunggu” → “If I were in your position, I'd wait.”
Jujur saja: dalam percakapan santai kamu juga akan sering mendengar “If I was…”, baik dalam bahasa Inggris Amerika maupun Britania. Namun were adalah bentuk standar, bentuk yang diharapkan dalam ujian, dan dalam ungkapan tetap untuk memberi saran, “If I were you”, were jelas pilihan yang normal.
Would hanya ada di induk kalimat. Bagian “seandainya…” memakai past simple: had.
“Seandainya dia tahu” → If she knew. Past simple saja sudah cukup untuk menunjukkan bahwa situasinya tidak nyata.
Dalam bahasa Indonesia kata kerjanya tidak berubah, tetapi dalam bahasa Inggris khayalan ditandai dengan had dan would. Dengan have dan will, kalimatnya terdengar seperti rencana nyata.
“Kalau saya jadi kamu” tidak diterjemahkan kata per kata. Ungkapan tetapnya: If I were you.
“Bisa” dalam pengandaian adalah could. Would dan can tidak dipakai bersama.
Dalam bahasa Indonesia subjek kedua sering dihilangkan, tetapi dalam bahasa Inggris induk kalimat harus punya subjek: I would drive.
Setelah would selalu bentuk dasar kata kerja, tanpa -ed dan tanpa to.
“Seandainya saya punya lebih banyak waktu…”: bahasa Indonesia menandai khayalan dengan kata, bukan dengan bentuk kata kerja
Bahasa Inggris tidak punya kata yang setara dengan “seandainya” di depan kalimat. Maknanya muncul dari pergeseran bentuk: have → had, will → would. “If I had more time, I would travel more.” Kalau kamu tetap memakai have dan will (“If I have more time, I will travel more”), kalimatnya menjadi rencana nyata, bukan khayalan.
“…, saya akan lebih sering bepergian”: kata “akan” hanya ada di bagian hasil
Pola ini sebenarnya sama dengan bahasa Inggris: dalam pengandaian, “akan” → would, dan letaknya hanya di induk kalimat. Bagian “seandainya…” tidak memakai “akan”, jadi dalam bahasa Inggris juga tanpa would: “If she knew the answer, she would tell you.”, bukan “If she would know…”.
“Kalau saya jadi kamu…”: kita memakai “jadi”, dan kata kerjanya tidak berubah
Dalam bahasa Inggris ungkapan ini tetap: “If I were you…”, dengan were walaupun subjeknya I. Bukan “If I am you” dan bukan “If I become you”. Begitu juga “If he were taller…”. Was sering terdengar dalam percakapan santai, tetapi were adalah bentuk standar dan aman.
“Kalau dia lebih tinggi, (dia) pasti main basket”: tanpa kata kerja “be”, dan subjek kedua sering dihilangkan
Bahasa Inggris membutuhkan keduanya. Kata sifat perlu kata kerja: “If he were taller”, bukan “If he taller”. Induk kalimat perlu subjek: “If I had a car, I would drive to work.”, bukan “…, would drive to work.” Setelah would selalu bentuk dasar: would drive, bukan would drove atau would to drive.
“Kalau saya punya lebih banyak waktu luang, saya bisa belajar gitar”
Dalam pengandaian, “bisa” menjadi could, bukan “would can” (dua kata kerja modal tidak bisa digabung). “If I had more free time, I could learn guitar.” Untuk “mungkin” pakai might: “If I had more time, I might learn Japanese.”
💡 Bagian if → past simple (had, were, knew, lived). Bagian “akan…” → would, hanya di induk kalimat.
💡 Induk kalimat: subjek + would + bentuk dasar (I would travel). “Bisa” → could, bukan would can.
💡 “Kalau saya jadi kamu” → If I were you.
"If you could live anywhere, where would you go?"
"Honestly, if I had the choice, I'd move somewhere warmer."
"Same. If I weren't so attached to my job here, I'd already be gone."
"Ha, I know the feeling."
Latihan 1 · Pilih kalimat yang benar
Choose the correct second conditional sentence.
Latihan 2 · Pilih kalimat yang benar
Choose the correct sentence with 'were.'
Latihan 3 · Pilih tense yang benar
Which tense goes in the if-clause of a second conditional?
Latihan 4 · Pilih kalimat yang benar
Choose the correct sentence.
Latihan 5 · Pilih kalimat pengandaian
Choose the sentence describing an unreal, hypothetical present situation.
Latihan 6 · Pilih kalimat yang benar
Choose the correct sentence with a modal instead of 'would' in the main clause.
Latihan 7 · Pilih kalimat yang benar
Choose the correct sentence.
Latihan 8 · Pilih kalimat yang benar
Choose the correct sentence giving advice.
Latihan 9 · Lengkapi kalimatnya
Complete the second conditional: 'If I ___ (have) a car, I would drive to work.'
Latihan 10 · Lengkapi kalimatnya
Complete the second conditional: 'If we ___ (live) closer, we would see each other more.'
Latihan 11 · Kelompokkan
0 / 4 dikelompokkan
Latihan 12 · Kesalahan umum: pengandaian tanpa had dan would
Indonesian: “Seandainya kami tinggal lebih dekat, kami akan lebih sering bertemu.” Which English sentence is correct?
Lima pertanyaan beragam untuk mengecek apa yang sudah kamu pelajari.
Pertanyaan 1 / 5
Skor: 0/0
Choose the correct sentence.
First conditional
Pelajari first conditional (present simple setelah if dan will di induk kalimat) untuk kemungkinan nyata di masa depan, plus jebakan “kalau” dan “akan”.
Third conditional (pengandaian tentang masa lalu)
Third conditional: past perfect setelah if dan would have + past participle untuk membayangkan masa lalu yang berbeda, tanpa jebakan “If I knew”.
Ungkapan syarat selain if
Provided that, as long as, on condition that, dan unless: cara lain menyatakan syarat, dan mengapa “selama” di sini bukan while atau during.
Zero conditional (kebenaran umum)
Pelajari zero conditional: present simple di kedua bagian kalimat untuk kebenaran umum, fakta ilmiah, dan kebiasaan, tanpa will setelah if.